Indeks Berita Terbaru Hari ini Dari Peristiwa, Kecelakaan, Kriminal, Hukum, Berita Unik, Politik, Liputan Khusus di Indonesia dan Internasional

Di Masjid Liberal Ini Wanita Jadi Imam, Boleh Tak Pakai Mukenah Saat Sholat

Suara Bangsaku - Sebuah masjid liberal pertama di Berlin Jerman diresmikan pada Jumat, 16 Juni 2017. Di masjid ini, imamnya seorang wanita dan boleh tidak pakai mukenah saat melaksanakan sholat.

Selain itu, di masjid yang diberi nama masjid Ibnu Rusyd-Goethe ini, para kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) bisa melaksanakan ibadah bersama-sama. Pria dan wanita dapat beribadah tanpa sekat.

Pembangunan masjid Liberal ini dipelopori oleh seorang aktivis dan pengacara wanita terkenal asal Turki yang tinggal di Jerman, Seyran Ates (54). Ia telah berjuang selama delapan tahun untuk mendirikan tempat ibadah tersebut.


Sedangkan imam masjid liberal itu yakni seorang perempuan asal Amerika Serikat. Namanya Ani Zonneveld. Ia telah memimpin doa dan shalat usai peresmian masjid.

“Saya tidak bisa menggambarkan kebahagiaan lebih dari yang saya rasakan sekarang. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan,” ucap Ates sambil tersenyum kepada The Associated Press (AP), sepetrti dilansir myplainview, Sabtu (17/6/2017).


Ates berjuang selama delapan tahun untuk mendirikan tempat sholat dimana Muslim progresif di Jerman dapat meninggalkan konflik agama dan fokus pada nilai-nilai Islam bersama mereka.

“Proyek ini sudah lama terlambat. Ada begitu banyak teror Islam dan begitu banyak kejahatan terjadi atas nama agama saya,” ucapnya.


“Yang terpenting bagi kita kaum muslim yang hidup di zaman modern untuk menunjukkan wajah kita di depan umum,” tambah Atas.

Nama masjid ini diambil dari gabungan nama filsuf Andalusia abad pertengahan, yakni Ibn Rusyd dan penulis Jerman Johann Wolfgang Goethe.

Masjid ini terletak di dekat pusat perbelanjaan. Masjid tersebut berada di lingkungan imigran Moabit, yang dihiasi dengan restoran India dan Vietnam serta kafe Timur Tengah.

Pengunjung yang mencari menara masjid atau mencoba mengikuti panggilan muazin bakal kesulitan. Sebab, masjid tersebut berada di sebuah ruangan besar di lantai tiga gereja dan belum memiliki menara masjid.

“Untuk memulai, kami sudah menyewa ruangan ini selama satu tahun,” kata Ates.

Lebih dari 4 juta Muslim tinggal di Jerman, mayoritas dari Turki tapi juga dari Balkan, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sebagian besar mulai datang ke Jerman pada tahun 1960an sebagai pekerja untuk membantu membangun kembali ekonomi setelah Perang Dunia II. Sementara niat Jerman untuk mengirim mereka pulang setelah beberapa tahun, mengalami kendala, sehingga banyak yang tinggal bersama keluarga mereka.


Jerman juga telah menerima lebih dari satu juta pengungsi sejak 2015. Kebanyakan dari mereka adalah Muslim dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah, Irak dan Afghanistan.


Hubungan antara mayoritas populasi Kristen dan minoritas Muslim secara tradisional telah menjadi rumit. Mereka telah diliputi oleh beberapa serangan teror di Jerman oleh umat Islam atas nama kelompok Islam ekstrimis. Penggerebekan dan larangan asosiasi Muslim radikal dan penangkapan tersangka ekstremis telah menjadi hal biasa.

Ates mengatakan bahwa masjid baru tersebut akan menjadi tempat liberalisme dimana setiap orang disambut dan setara. Wanita tidak harus memakai jilbab, bisa berkhotbah sebagai imam dan adzan seperti pria.

“Tidak akan ada kebencian yang memberitakan demokrasi di sini,” kata Ates.

Sebaliknya, para pengikut dapat mengungkapkan keraguan tentang kepercayaan mereka dan mendekati agama mereka dengan akal dan bukan pengabdian buta.

Ates, yang ditembak dan hampir meninggal saat bekerja sebagai penasihat wanita Turki pada tahun 1984 dan diserang oleh seorang suami yang marah, mengabaikan potensi kekhawatiran tentang ancaman dan kritik dari Muslim yang lebih konservatif.

“Saya telah menerima beberapa pesan melalui media sosial, kebanyakan penuh dengan kata-kata kasar. Tapi 95 persen umpan baliknya bagus dan positif,” tambahnya.


Orang-orang Turki, Kurdi dan Arab sama-sama telah menyumbangkan uang. Sejumlah pengusaha telah menawarkan bantuan pembuatan papan nama dan iklan.

Selain itu, beberapa restoran Timur Tengah juga mengantarkan makanan gratis untuk berbuka puasa pada hari Jumat malam.

Saudara perempuan Ates membawa 30 sajadah dari Istanbul beberapa minggu yang lalu. Dan seorang arsitek interior Indonesia telah menawarkan jasanya untuk menggunakan kamar seluas 90 meter persegi (970 kaki persegi).

Untuk ke depannya, dia dan tujuh rekannya yang mendukung proyeknya sejak awal, bermimpi membangun masjid yang sesungguhnya dengan beberapa ruang sholat untuk orang-orang percaya dari semua sekte Islam yang berbeda serta sebuah akademi yang mengabdikan diri untuk pendidikan para imam liberal, laki-laki dan wanita.

Di luar itu, Ates sudah mengerjakan proyek besar berikutnya. “Saya akan mulai belajar teologi Islam dan bahasa Arab di Berlin musim gugur ini. Saya ingin menjadi seorang imam sendiri,” tandasnya. [suarabangsaku.com / psi]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Di Masjid Liberal Ini Wanita Jadi Imam, Boleh Tak Pakai Mukenah Saat Sholat